LSBO Purworejo Adakan Workshop Penulisan Puisi Islami

PURWOREJO, purworejo24.com – Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purworejo bekerjasama dengan SMK Muhammadiyah Purworejo menyelenggarakan Workshop Penulisan Puisi Islami di aula SMK Muhammadiyah Purworejo, pada Sabtu (17/2/2024).

Workshop diikuti sebanyak 30 siswi dari SMA, SMK, bahkan SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Purworejo.

Dalam sambutannya Ketua LSBO Budi Santoso berharap peserta setelah mengikuti kegiatan tersebut mampu menulis puisi yang religius.

Dengan puisi maka akan menjernihkan pikiran, membeningkan hati, lebih santun dalam bertutur kata, dan tentunya lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta,” ujar Budi Santoso.

Sementara itu dalam materi pertama, Drs Dulrokhim Mpd menyampaikan pengertian puisi, baik puisi lama, maupun puisi modern, termasuk teknis penulisan dari pemilihan tema, judul, kata kunci, diksi, rima, irama, pengembangan tulisan, tipografi, pembaitan, dan pesan utama yang disampaikan.

Awalilah menulis puisi dengan keceriaan dan kebahagiaan, serta akhirilah menulis puisi dengan kebijaksanaan,” ujar Dulrokhim.

Sedang pemateri kedua Wahidin SPd menyampaikan materi nilai-nillai Islami dalam Puisi. Wahidin juga memaparkan contoh puisi-puisi berwujud tembang tembang religi yang dibawakan Sanggar Serambi Bagelen.

Dalam kesempatan itu Dr Junaedi Setiyono MPd menambahkan, menulis puisi pun kadang butuh penelitian mendalam.

Saat ini Junaedi sedang merampungkan penulisan puisi dengan tema gunung. Gunung yang paling akrab di mata Junaedi adalah gunung Sumbing dan Sindoro.

Saat paling akrab dengan kedua gunung itu adalah ketika saya masih kanak-kanak. Ketika itu saya sering di pagi hari dituntun embah melihat kereta api di stasiun Purworejo. Gunung- gunung itu terlihat jelas dari stasiun itu. Akhir- akhir ini kedua gunung itu mengingatkan saya pada lukisan Raden Saleh, yaitu penangkapan Pangeran Diponegoro di Gedung Karesidenan Magelang. Gunung- gunung itu terlihat jelas dalam lukisan itu. Selanjutnya, lukisan itu membawa angan saya kepada Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Diponegoro. Di buku pelajaran, disebutkan perang itu pecah karena Belanda hendak membuat jalan atau rel kereta api yang membelah makam leluhur sang pangeran. Saya mencoba menelisik apakah tahun 1825 sudah jamak orang membuat jalan kereta api. Terjawab: rel kereta api pertama baru dibuat tahun 1825 di Inggris. Dengan demikian, janggal pada tahun itu Belanda hendak membuat jalan kereta api di Jawa. Itu hanya contoh kecil “Kerewelan” saya saat menulis puisi. Kita memang perlu banyak membaca agar puisi kita berisi (dan tidak membuat kesalahan),” bebernya.

Di penghujung acara salah satu siswi SMK Muhammadiyah Mutiara Ayu membacakan puisi religinya dan dibahas bersama-sama. (P24/wid/top)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *