Ramadhan dan Egalitarisme di Negeri Jiran

Oleh: Ahmad S N

(Penulis & Wartawan/Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Mataram)

Waktu menunjukkan pukul 10.00 AM ketika pesawat yang kami tumpangi mengalami guncangan ringan tanda mendarat di Kuala Lumpur International Airport, Jumat, 8 Maret 2024.

Suhu udara di Kuala Lumpur terasa hangat, sepanjang penerbangan penuh dengan kabut yang mengepul menjadi titik-titik awan di udara yang berakibat turbulensi kecil bagi pesawat. Rintik-rintik kecil turun ditengah kebisingan Bandara di Kuala Lumpur.

Malaysia memang mengalami iklim khatulistiwa sehingga cuaca tropis dengan dominan panas dan lembab sepanjang tahun dengan suhu minimal 27 derajat celsius dengan curah hujan terbilang tinggi.

Terasa baru subuh tadi kami masih merasakan udara di Pulau Lombok hingga beberapa jam setelahnya tiba di Negeri Jiran, Malaysia.

Bagi yang masih bertanya, sebutan Negeri Jiran bagi Malaysia merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti tetangga dekat bahkan ada wilayah daratan Indonesia dengan Malaysia yang masih menyatu di Pulau Kalimantan yaitu wilayah Serawak.

Kedatangan kami di Malaysia bertepatan dengan suasana menyambut bulan Ramadhan, sebagian tempat yang menyediakan layanan publik sibuk dengan berbagai desain dan dekorasi khas Ramadhan meskipun tidak terlalu meriah seperti di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari corak Malaysia yang terdiri dari etnis yang cukup beragam yakni Melayu yang merupakan etnis asli, etnis Tamil yang merupakan asli India, dan Etnis Tionghoa. Baru-baru ini, etnis Bangladesh juga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Malaysia.

Sebagian besar etnis melayu atau Bumiputera yang beragama islam menjadi mayoritas dengan populasi 61,8%, dari jumlah populasi keseluruhan masyarakat Malaysia sedangkan etnis Tionghoa di Malaysia sekitar 21,4% sedangkan penduduk India di Malaysia sekitar 6,4%.

Mengutip dari Britanica Encylopedia keberagaman etnis malaysia disebabkan karena geografisnya yang strategis. Wilayah semenanjung melayu dengan pantai utara kalimantan merupakan titik perdagangan maritim utama dunia sehingga banyak orang dari berbagai negara yang datang untuk berdagang di wilayah ini. Beberapa diantaranya memilih untuk tinggal serta menetap di Malaysia.

Demografi di Malaysia memang sedikit lebih beragam, dimana tanah melayu (The Malay Land) yang didominasi penduduk asli harus berbagi dengan etnis pendatang seperti Etnis Tamil dari India dan Etnis Tionghoa. Perbedaan etnis itu secara perlahan kemudian membentuk sebuah stratifikasi sosial dalam berbagai bidang di Negara Jiran.

Di antara yang paling kasat mata adalah stratifikasi dalam bidang bisnis dan kegiatan usaha menempatkan orang Melayu dan Tionghoa bekerja di sektor yang lebih mapan dan orang India di bawahnya. Meskipun tidak dipungkiri stratifikasi ini tidak melulu terjadi di semua sektor, namun secara mayoritas ditunjukkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah Malaysia terhadap orang asli melayu yaitu diberikan kemudahan yang disebut semacam proteksi dalam dunia kerja diantaranya kuota khusus Pegawai Negeri Sipil, kredit perumahan yang lebih murah dan kemudahan dalam mendapatkan beasiswa di universitas dan lainnya.

Saya jadi ingat perbincangan Tun Dr. Mahathir, mantan Perdana Menteri Malaysia mengungkapkan tentang dilema malaysia dimana kecendrungan hidup mapan dan biaya hidup yang mudah membuat orang melayu menjadi terlena dan kebanyakan tidak masuk dalam dunia-dunia bisnis yang lebih banyak didominasi oleh orang Thionghoa.

Seiring berkembangnya zaman, Etnis Tionghoa di Malaysia membentuk sebuah kekuatan ekonomi baru. Dirilis dari Forbes (2023) dari daftar 10 Orang terkaya di Malaysia 8 orang berasal dari Etnis Thionghoa dimana dua lainnya dari Etnis Melayu dan Tamil.

Perbedaan sebenarnya bukanlah sesuatu yang mesti ditakutkan jika diatas perbedaan-perbedaan itu ada tujuan bersama yang hendak mesti dicapai. Karena memang takdir keberagaman merupakan suatu hal yang mutlak.

Namun diatas perbedaan etnis dan persaingan bisnis yang terjadi di Negeri Jiran, perbedaan dan keberagaman melebur menjadi satu entitas yang lebih tinggi yaitu egalitarisme atas nama Agama.

Di sisi lain penetapan 1 Ramadhan di Malaysia jatuh pada hari Selasa, 12 Maret 2024 , setelah resmi dikeluarkan oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia dibawah Jabatan Perdana Menteri Hal Ehwal Agama. Penentuan satu ramadhan itu atas hasil rukyat para ahli falak di 29 titik di Malaysia yang tidak menemukan hilal sehingga sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.

Kami melaksanakan Taraweh pada senin malam disebuah surau di kawasan Putra World Trade Centre (PWTC) Malaysia bertepatan ditempat yang sama sebuah agenda dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur disana.

Dalam menjalankan ajaran agama Islam pemerintah Malaysia resmi menetapkan mazhab syafi’i sebagai panduan dalam pelaksanaan ritual peribadatan.

Kami membuat shaf di belakang, surau sebutan untuk masjid itu penuh. Di sisi kiri kanan terlihat rapi dengan shaf-shaf malam pertama pelaksanaan taraweh. Di sini mudah sekali dikenali seseorang dari etnis di mana mereka berasal. Di sisi kiri-kanan shaf rupanya lengkap. Etnis Melayu, India dan sedikit dari Tionghoa ada di sana.

Memang pada hakikatnya agama telah menjadikan sebuah perbedaan dan keberagaman sebagai sebuah sunnatullah. Sebagaimana dalam QS Al-Hujurat Ayat 13 Allah SWT menekankan sebuah perbedaan bukanlah ukuran dihadapanNya melainkan iman dan takwa.

“Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Saya menduga nilai egalitarisme di Negeri Jiran Malaysia akan dimotori oleh nilai-nilai agama. Bisnis, Pendidikan, dan sektor lainnya memang satu hal yang selalu mengakomodir sebuah kompetisi diantara individu yang secara jelas menghasilkan sebuah stratifikasi sosial. Tapi sebuah praktik ibadah seperti tarawih yang disebutkan tadi menggambarkan kerapatan shaf yang menjadi semacam barrier atas praktik diskriminasi bagi perbedaan etnis.

Bagaimana kalau bisnis yang dilakukan menerapkan nilai-nilai Islam seperti praktik perbankan syariah yang sudah ada di Malaysia semisal Islamic Maybank salah satu Bank terbesar di Malaysia, Bank Islam Malaysia dan lainnya. Di lingkungan pendidikan sepertinya kita sudah banyak mafhum bahwa lingkungan akademik menjadi salah satu lingkungan yang paling toleran. Kunjungan saya ke Kampus UiTM Puncak Alam di Selangor menjadi bukti bahwa banyak mahasiswa India, Bangladesh bahkan Afghanistan sedang melanjutkan studi Master hingga doktoralnya di sana.

Yang lebih terpana lagi ketika kami sempat mengikuti iftar Ramadhan atau semacam buka puasa yang disedikan oleh pihak takmir di Kompleks Masjid Jamek Sultan Abdul Samad di Kuala Lumpur. Kami menyaksikan feed untuk iftar yang disedikan oleh panitia diberikan kepada hampir 500 jamaah bahkan lebih yang hadir di sana dan diberikan gratis. Bukan sebuah kebetulan ketika panitia yang kebanyakan dari Etnis Melayu dan kebanyakan jamaah dari pendatang yaitu Etnis India.

Saya justru melihat itu sebagai sebuah makna tentang solidaritas, tanpa memandang diskrimansi bahwa diatas semuanya mereka hadir sebagai representasi dari seorang muslim dan Ramadhan sekali lagi menjadi momen yang bisa mempersatukan makna solidaritas sesama Muslim dengan latar belakang etnis manapun.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *