Mengenal Teknik Sablon Manual Tak Lekang Zaman

Proses teknik sablon manual pada pembuatan baju (Shutterstock/KOKTARO)

JAKARTA.NIAGA.ASIA — Kalau Sobat Parekraf amati, sampai saat ini masih banyak produk pakaian yang menggunakan teknik sablon manual. Menariknya, saat ini banyak pelaku ekonomi kreatif yang masih bertahan menggunakan teknik sablon manual di tengah gempuran modernisasi dan perkembangan teknologi digital printing. Hal inilah yang akhirnya memicu tanda tanya besar: mengapa teknik sablon manual masih banyak diminati?

Sebelum membahas lebih jauh tentang keunggulan sablon manual yang membuatnya populer sampai sekarang, akan lebih baik kalau kita memahami definisi sablon manual itu sendiri. Sesuai dengan namanya, sablon manual merupakan teknik penyablonan yang masih dilakukan secara konvensional, alias masih mengandalkan keahlian manusia sepenuhnya.

Teknik sablon manual hanya menggunakan tinta dan screen printing untuk memindahkan desain gambar ke bahan yang akan dicetak. Lalu, penyablon akan menggunakan rubber untuk meratakan tinta hingga sesuai dengan warna pada desain yang diinginkan. Hal ini tentunya berbeda dengan teknik sablon Direct to Garment (DTG) yang menggunakan mesin printer khusus untuk mencetak gambar langsung ke bahan.

Keunggulan Teknik Sablon Manual

Meski kesannya jadul dan masih tradisional, nyatanya saat ini banyak pelaku ekonomi kreatif yang menjual berbagai macam merchandise dengan menggunakan teknik sablon manual. Tentunya, daya tarik dan popularitas teknik sablon manual tidak bisa dipisahkan dari kualitas gambar yang dihasilkan.

Sebenarnya, ada banyak keunggulan teknik sablon manual dibandingkan dengan teknik sablon modern atau DTG. Salah satu keunggulan yang paling menarik perhatian banyak orang adalah biaya produksi yang jauh lebih terjangkau. Meski begitu, kualitas yang dihasilkan tetap bagus dan tidak kalah dibandingkan dengan teknik modern yang menggunakan mesin.

Tidak hanya itu, masih populernya teknik sablon manual juga tidak bisa dipisahkan dari hasil cetak yang dihasilkan. Meski sekilas sablon digital terlihat lebih “premium”, namun ada kalanya sablon manual justru menciptakan karakter yang lebih hidup dan detail. Bahkan, tidak jarang hasil sablon manual akan lebih autentik dan berbeda dengan teknik lainnya.

Dari segi kualitas gambar, teknik sablon manual juga tidak patut dianggap remeh. Pasalnya, sablon manual biasanya memiliki hasil warna yang lebih bagus. Bahkan, diperkirakan matching warna sablon manual bisa mencapai 80-90%, alias memiliki warna yang mirip dengan permintaan konsumen. Belum lagi, warna dari sablon manual juga dipercaya lebih tahan lama dan tidak luntur.

Fakta menarik lainnya, pemanfaatan teknik sablon manual juga jauh lebih fleksibel. Bahkan, kita bisa mengaplikasikan teknik sablon manual di berbagai jenis bahan, tergantung dengan jenis tinta yang digunakan. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan teknik sablon digital yang biasanya hasilnya akan maksimal jika menggunakan kain 100% katun.

Misalnya ingin mengaplikasikan cetakan pada baju jersey olahraga, kita bisa menggunakan tinta water-based saat memulai teknik sablon manual. Sedangkan jika ingin menggunakan jenis tinta glow in the dark, bisa digunakan pada kain berbahan katun berwarna gelap untuk hasil maksimal. Jadi tinggal disesuaikan dengan bahan dan desain yang kita inginkan saja.

Melihat banyaknya keunggulan yang diberikan, tentu tidak mengherankan jika teknik sablon manual masih banyak diminati sampai sekarang, bukan?

Sumber : Humas Kemenparekraf | Editor : Saud Rosadi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *