Masuk Zona Merah Bencana Tsunami, BPBD Purworejo dan BMKG Beri Edukasi ke Masyarakat dengan Slogan Siap Untuk Selamat

PURWOREJO, purworejo24.com – Kabupaten Purworejo menjadi salah satu dari empat kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki potensi dampak tsunami karena berada dikawasan pesisir pantai selatan jawa. Menyikapi hal itu, BPBD Kabupaten Purworejo bersama BMKB terus berupaya melakukan mitigasi sebagai upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana kepada masyarakat. Salah satu yang dilakukan adalah dengan memberikan simulasi disekolah dan di desa- desa.

Hari ini kita melaksanakan simulasi dan edukasi terkait dengan bencana khususnya gempa bumi. Kegiatan ini kita laksanakan terkait dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana atau HKB. Tentunya harapan kami ini menjadi suatu edukasi masyarakat agar manakala kita hidup didaerah rawan bencana utamanya bencana gempa bumi harus tau persis bagaimana penyelamatan, bagaimana cara kita menyelamatkan diri dan mengerti bagimana teknis kita untuk mencari titik yang disyaratkan untuk berkumpul atau menjadi titik aman,” kata Kepala BPBD Kabupaten Purworejo, Haryono, disela kegiatan simulasi dan edukasi bencana di SMP Negeri 2 Purworejo, pada Senin (29/4/2024).

Dengan kegiatan itu, Haryono juga berharap dengan kegiatan itu bisa lebih teredukasi dan sesuai dengan semboyan atau slogan untuk kegiatan HKB yaitu Siap Untuk Selamat.

Harapan kami masyarakat tau persis karena hasil mitigasi kami untuk bencana khususnya gempa bumi, paling banyak korbannya adalah anak sekolah,” ujarnya.

Disampaikan, ditahun 2024 ini, terkait kebencanaan tidak termasuk begitu parah atau berbahaya, namun angin puting beliung dan banjir masih perlu di waspadai, karena hasil mitigasi yang dilakukan oleh BPBD ada dua titik yang masih perlu diwaspadai terkait dengan bencana banjir, yaitu diwilayah Butuh yang bergandeng dengan Kecamatan Pituruh, dan Kecamatan Bayan.

Kami kedepan bersama dengan BBWSO terkait dengan irigasi, saluran- saluran air yang telah kita rintis sejak tahun 2023, namun demikian karena cakupan wilayah yang sangat luas oleh BBWSO dan Probolo maka kita masih menunggu giliran atau jatah perbaikan yang ada,” jelasnya.

Haryono menghimbau kepada masyarakat terkait bencana karena bencana adalah milik bersama, maka harus ada sinergisitas dengan semua pihak, baik stekholder dan masyarakat untuk mengurangi resiko. Slogan Kita Siap Selamat juga dianggap sangat baik dengan harapan masyarakat bisa paham, tidak hanya BPBD namun bagi semua relawan, semua masyarakat dan semua komponen yang harus bersatu dalam rangka untuk menanggulangi potensi bencana yang ada.

Kami selalu berkoordinasi dengan BMKG terkait dengan curah hujan, yang ada diwilayah kecamatan Butuh/Pituruh, kemudian Kecamatan Bayan, lalu Kecamatan Ngombol, Purwodadi dan Bagelen, ini yang selalu kami pantau,” terangnya.

Staff Operasional BMKG Banjarnegara, Yusuf Nur Perkasa, menyampaikan, di Jawa Tengah ini ada empat kabupaten yang berpotensi terjadinya tsunami, yaitu Cilacap, Kebumen, Wonogiri dan Purworejo yang merupakan wilayah yang ada disepanjang pesisir selatan.

Adanya isu Megathrust yang akan terjadi, untuk Purworejo ini kita sudah memodelkan dari para ahli untuk skenario terburuk dari gempa Megathrust yang diperkirakan bisa mencapai 8,7 Magnegudo, dengan ketinggian tsunaminya sekitar 17-18 meter di sekitaran pesisir, dengan waktu tiba tsunaminya sekitar 30 menit. Jadi kalau kita mengadakan simulasi itu kita bagi menjadi 2 dari golden time agar persiapannya lebih matang, jika golden time waktu tiba bisa mencapai 30 menit kita bikin menjadi 15 menit. Jadi untuk latihan simulasi kita biasanya berlari dari pesisir ketempat evakuasi sementara itu dibagi dua waktunya,” jelasnya.

Untuk Kabupaten Purworejo, daerah pesisir yang berpotensi terkena ombak paling tinggi adalah daerah Kecamatan Ngombol, Purwodadi dan Grabag. Sebagai edukasi kepada masyarakat, tahun ini BMKG Banjarnegara berencana akaan melaksanakan sekolah lapang gempa bumi dan tsunami di Kecamatan Ngombol. Edukasi biasanya diberikan kepada warga didesa- desa yang masuk di zona merah bencana tsunami.

Sebagai antisipasi dan peringatan dini, BPBD Purworejo juga telah memasang Early Warning System (EWS) sebanyak 19 titik yang tersebar disepanjang pantai selatan Kabupaten Purworejo, yang meliputi tiga kecamatan yaitu Grabag, Purwodadi dan Ngombol. EWS itu selalu dicek kondisinya secara rutin ditiap tanggal 26 jam 10.00 wib,” jelasnya. (P24/wid)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *