Legendaris, Warga Desa Sawangan Jadikan Krupuk Upik sebagai Mata Pencaharian

PITURUH, purworejo24.com – Bagi warga Kabupaten Purworejo, dan sekitarnya, tentu tidak asing dengan nama kerupuk Upik atau Sarmiyer.

Kerupuk legendaris berbahan baku dari ketela yang berbentuk bulat lonjong dengan warna putih dan merah yang rasanya gurih ini telah eksis di pasaran sejak tahun 1977an lalu dan masih terus bertahan hingga saat ini.

Selain enak sebagai cemilan, krupuk ini banyak ditemui sebagai pelengkap menu masakan gado- gado, lothek, ketoprak, dan lain sebagainya.

Krupuk Upik itu ternyata menjadi andalan bagi ibu- ibu di Dusun Sawangan RT 5 RW 3, Desa Sawangan, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Tak kurang dari 10 rumah atau keluarga di Dusun itu, memproduksi dan menjadikan Krupuk Upik sebagai mata pencaharian hidup sehari- hari. Kesejahteran hidup mereka kian meningkat dengan hasil produksi Krupuk Upik.

Wahyu sebagai salah satu pembuat sekaligus pengepul Krupuk Upik di Desa Sawangan, mengatakan, Krupuk Upik itu biasa dikenal oleh masyarakat dengan nama krupuk krecek, sermiyer atau krupuk ketela, dan krupuk itu dibuat dengan bahan baku utama dari ketela atau singkong.

Masyarakat disini sehari – hari bekerja membuat krupuk. Yang membuat ada sekitar 10 keluarga atau 10 rumah di Dusun Sawangan ini,” sebut Wahyu, saat ditemui dirumahnya, pada Sabtu (8/6/2024) lalu.

Bahan baku ketela atau singkong banyak didatangkan dari daerah Bener, Wonosobo, dan daerah lain yang banyak menghasilkan ketela. Rata – rata ketela yang datang sekali datang mencapai 1,5 ton.

Cara pembuatan krupukpun tidak terlalu sulit, jika bahan baku telah datang, ketela itu langsung dikupas kemudian dicuci, lalu digiling menggunakan parut khusus. Setelah diparut kemudian dipres, supaya airnya itu keluar dan kering. Setelah dipres lalu dikukus, dan untuk pewarnaan, biasanya dicampuri dengan warna merah, supaya menarik. Setelah dikukus dan dingin kemudian dirajang tipis lalu dijemur dan setelah kering baru dikemas untuk dijual.

Ibu- ibu biasanya menjemur krupuk itu ditepi sungai, karena tempatnya luas dan mudah kering untuk menjemur, makanya tiap hari selalu ramai banyak warga yang datang ke tepi sungai untuk menjemur krupuk,” ujarnya.

Krupuk Upik lanjutnya, banyak dipasarkan di pasar lokal Purworejo. Selain itu mereka juga menjualnya hingga ke daerah Wates Yogyakarta, dan ke Gombong, Kebumen.

Satu bal biasa isi 5 Kg dengan harga 75 ribu. Kebetulan kami hanya membuat satu rasa, rasa alami, dan bumbunya hanya dengan menggunakan garam,” katanya.

Diungkapkan, usaha pembuatan Krupuk Upik sebenarnya telah dilakukan sejak lama, secara turun temurun oleh keluarga mereka. Dari dengan cara sederhana hingga menggunakan alat modern saat ini.

Ini sebetulnya sudah turun temurun, dari sejak mbah saya dulu itu sekitar tahun 1977, sudah lumayan lama juga, jadi kita sebagai generasi penerus supaya tidak punah istilahnya, nguri- nguri, dan alhamdulillah ternyata bisa menjadi mata pencaharian kita disini,” ungkapnya.

Jika dulu mereka membuat Kupuk Upik dengan kapasitas sedikit, saat ini pembuatan Krupuk Upik sudah dilakukan secara partai besar. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar, bahan baku juga mudah didatangkan dari daerah lain.

Mungkin inisiatif mbah dulu, kan waktu dulu belum ada partai besar yang setorin singkong itu, jadi hasil bahan bakunya itu murni dari tanam sendiri, kebun sendiri, kemudian diolah sendiri, dengan alat – alat tradisional, seiring waktu berjalan akhirnya kita bisa seperti ini, bisa menggunakan alat yang lebih modern lagi, dan singkong bisa didatangkan secara banyak dari daerah lain,” jelasnya.

Dalam seminggu, warga mampu menjual Krupuk Upik hingga rata- rata 300 bal. Krupuk itu biasa diantar kepesanan pasar daerah Wates, Kebumen dan Purworejo sendiri.

Yang namanya jual beli kan biasanya naik turun ya. Kita masih paling jauh ke Wates, dan paling barat ke Gombong. Luar daerah sementara kita belum memiliki lubang, mudah- mudahan nanti seiring waktu berjalan kita bisa terus mengembangkan diri ke luar daerah, lebih jauh lagi,” harapnya.

Wahyu menginginkan produksi Krupuk Upik ini bisa terus berkembang, dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat didesa Sawangan.

Supaya bisa menjadi icon di desa sini, dan bisa lebih terkenal lagi. Target kami seperti itu. Mudah- mudahan sesuai rencana nanti bisa terwujud. Alhamdulillah respon dan minat masyarakat bagus, mereka sudah tau tentang produk ini dan merasakan juga, cocok dilidah mereka,” terangnya. (P24/wid)

Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Mulai berlangganan untuk menerima artikel terbaru di email Anda.


Tag: 24 jam purworejo berita 24 jam berita purworejo berita purworejo hari ini Berita Purworejo Terkini berita terkini purworejo Krupuk UsahaTopik: Krupuk Upik

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *